18 February 2010 View Comments

Mental Rehearsal

Mental Rehearsal

Sebelum saya lanjutkan lebih jauh mengenai apa itu Mental Rehearsal beserta langkah-langkah metodenya, saya akan ceritakan satu pengalaman bagaimana saya seolah-seolah menciptakan suatu realitas dan rangkaian kejadian-kejadian pada suatu hari, sesuai keinginan dan imajinasi saya.

Jadi pada malam itu, sebelum tidur, saya membayangkan banyak kejadian yang mungkin terjadi esok harinya. Ya, karena esok hari tersebut saya akan menghadapi segudang aktivitas yang cukup banyak, mau tak mau saya terus memikirkan hari esok pada malam itu. Saya mulai membayangkan semua kejadian secara bertahap—mulai dari rutinitas kuliah yang membosankan, kegagalan saat melakukan presentasi seperti pengalaman di hari-hari sebelumnya, perilaku dan kebiasaan menyebalkan dari teman-teman, dan berbagai masalah lainnya. Semua masalah tersebut saya gambarkan secara detil dalam pikiran, dan kemudian saya memposisikan diri saya sebagai orang yang mampu mengatasi dan memberikan respon terbaik terhadap semua masalah tersebut (kalau boleh jujur, sebenarnya kita ini punya kemampuan menyelesaikan masalah hidup kita sendiri, cuma kita sering merasa tidak mampu dan tidak cukup percaya diri dalam melakukannya :D ).

Nah, perlahan-lahan—dan entah kenapa—saya merasakan semua permasalahan dan bayangan negatif tersebut mulai melayang meninggalkan tubuh saya. Dengan kondisi jiwa dan raga (halah! :D ) yang tentram dan damai seperti ini, saya mulai berimajinasi bagaimana seandainya kalau saya bisa menyelesaikan semua masalah di hari itu (dalam pikiran), mampukah saya mengatur semua kejadian dan membuat realitas sesuai keinginan saya?

Saya memulainya. Saya membayangkan diri saya menjadi sosok seperti apa yang saya inginkan. Saya membayangkan apa saja yang harus saya lakukan dan katakan kepada semua orang yang saya temui di hari tersebut, dan “memaksa” mereka untuk memberikan reaksi dan ucapan sesuai apa yang saya mau :D . Semuanya terjadi di khayalan saya malam itu. Sangat detil. Terperinci. Jelas.

Dan tahukah kamu, saya merasa menjadi diri saya yang saya inginkan; lebih siap, berani, dan percaya diri; dan sebagian hal yang saya bayangkan malam itu benar-benar terjadi esok harinya. Oke, perlu saya jelaskan bahwa saya sedang tidak bercerita tentang Hukum Ketertarikan (Law of Attraction)—yang mungkin sebagian dari kalian sudah bosan mendengarnya. Karena, manfaat yang saya rasakan setelah melakukan semua hal di atas tidak lebih dari kemampuan merespon semua kejadian dan situasi nyata dengan baik—bukannya menciptakan realitas sesuai keinginan saya.

Jadi, belakangan ini saya baru tahu mengenai metode semacam ini setelah teman-teman HS sering cerita soal Mental Rehearsal (atau Mental Imagery). Ternyata metode Mental Rehearsal sudah lama dan sering dipraktekkan para atlet, motivator, pembicara, pelamar kerja (sebelum diwawancarai), cheerleader, salesman, pengajar, dan sebagainya. Tujuan metode ini tak lain sebagai confidence-booster, relaksasi, menciptakan right state of mind untuk menangani situasi yang menantang, pemicu performa, meminimalkan kegelisahan, dan sebagainya.

Yang pasti, saya bukanlah pakar ilmu psikologi, praktisi NLP, hipnotis, atau bidang ilmu lain sejenis. Namun, saya akan membagi langkah-langkah yang biasa saya lakukan saat mempraktekkan teknik Mental Rehearsal ↓

Langkah 1: Set up

1. Menciptakan suasana tenang

Saya selalu memilih melakukannya di kamar sendiri, karena ketenangan bisa saya atur sehingga prosesnya akan terasa lebih nyaman, rileks, dan tidak terganggu.

2. Mempraktekkan sebelum tidur

Alasan saya suka melakukan Mental Rehearsal sebelum tidur malam karena saya mempunyai waktu yang cukup panjang untuk berimajinasi, dan itu waktu yang sangat tepat sebelum menghadapi hari yang baru (didahului sholat malam dulu kalau perlu ;) ). Saya sering berimajinasi sebelum akhirnya tertidur dengan sendirinya :P .

Langkah 2: Terima diri sendiri

Saya katakan berkali-kali dalam hati pada diri saya bahwa saya menerima diri saya sepenuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, saya bangga dan cinta pada diri saya, saya mengenal diri saya, saya tahu apa yang saya mau dan mampu mendapatkan semuanya. Kemudian saya menyadari bakat yang saya miliki, wajah saya yang maha ganteng :lol: , dan prestasi apa saja yang saya dapat selama ini.

Cara ini terbukti cukup ampuh dalam menciptakan rasa pede dan kebanggaan yang besar pada diri saya saat itu.

Langkah 3: Kenali situasi dan permasalahan

Cara ini lebih gampang dilakukan apabila kita mempunyai jadwal rutin harian. Misalnya kita sebagai mahasiswa atau siswa sekolah, kita pasti mempunyai jadwal tertentu untuk tiap hari. Banyak parameter yang bisa kita pakai di hari-hari tersebut, misalnya jadwal masuk dan pulang kuliah, kegiatan eksternal di luar jam kuliah, guru atau dosen yang mengajar di hari itu, siapa saja teman-teman yang akan saya temui.

Nah, dari parameter-parameter tersebut saya analisa lebih jauh lagi: bagaimana sifat, watak, dan kebiasaan dosen saat mengajar; bagaimana sifat teman-teman yang saya temui, apa saja yang biasa mereka katakan dan lakukan kepada saya, apa hal-hal yang biasanya membuat saya terlihat lemah dan bodoh, dan sebagainya. Saya bayangkan secara terperinci semua masalah yang biasa saya temui dan kekurangan-kekurangan pada diri saya.

Langkah 4: Ambil satu situasi

Dari segudang aktivitas di satu hari, saya ambil satu situasi dimana saya ingin tampil dengan performa maksimal, misalnya saat akan melakukan presentasi di depan orang-orang atau saat menjadi salah satu pemain di pertandingan bola. Saya lebih suka menyarankan satu situasi untuk yang baru kenal metode ini, karena mungkin akan lebih mudah memfokuskan diri pada situasi tersebut.

Dari situ saya gali lagi kelebihan dan kekurangan saya, permasalahan, dan respon orang-orang sekitar pada situasi tersebut.

Langkah 5: Bentuk right state of mind dan respon yang baik

Tidak semua reaksi (baik positif maupun negatif) dapat saya handle dengan baik—mungkin karena saya kadang-kadang merasa kurang mampu dan kurang pede. Tapi saya harus sadari bahwa kalau saya masih hidup di hari itu, maka hari itu adalah milik saya dan saya pun pasti mampu melaluinya dengan baik.

Maka saya bayangkan respon apa yang dapat saya berikan untuk menangani masalah dan memperbaiki keadaan secara maksimal. Kalaupun nanti saya tidak benar-benar berhasil, saya selalu paksakan pada diri saya sendiri untuk mengatakan “why so serious?”—sambil tersenyum :)

Langkah 6: Tentukan goal dan keinginan

Seperti anak kecil yang punya cita-cita, saya tetapkan tujuan dan kemauan yang saya idam-idamkan di hari tersebut. Tentu saja ini akibat proses pembentukan respon yang baik terhadap segala kemungkinan situasi, karena kalau saya bisa menyelesaikan masalah dan mampu mengendalikan diri, otomatis saya mendapatkan feedback yang saya inginkan.

Langkah 7: The Rehearsal

OK, langkah terakhir ini saya selalu memvisualisasikan diri saya sebagai sosok yang saya mau. Dari semua langkah yang saya lakukan di atas, saya susun skenario, saya sutradarai, dan saya putar filmnya dengan saya sebagai pemeran utama. Kalau saya mau main bola, saya bayangkan bagaimana kiper lawan gagal menahan laju bola saya yang sangat dramatis di detik-detik terakhir. Kalau saya seorang rockstar, saya mungkin membayangkan bagaimana rasanya mendengar nama saya diteriaki ribuan fans cewek yang semuanya ingin bergelayutan di pundak saya. Kalau saya pemain golf, saya mungkin merasakan bagaimana saya melakukan swing dan membayangkan arah laju bola yang mendarat di lubang dengan sempurna sesuai perkiraan.

Kemudian, saya gambarkan bagaimana saya merayakan penghargaan dari sukses yang saya raih. Rileks, konsentrasi, fokus, dan senyum :) Saya telah berhasil melakukannya di pikiran saya, dan ini adalah bekal yang baik untuk menghadapi situasi nyata.

Tips dan catatan

  • Hukum Ketertarikan kadang bekerja disini. Tapi tujuan utama kita melakukan Mental Rehearsal bukan untuk mendapatkan apa yang kita mau, melainkan sekedar mempersiapkan mental (dengan visualisasi sosok diri sendiri yang kita mau) untuk menghadapi situasi yang terjadi dan reaksi orang lain.
  • Lakukan cukup sekali sehari (dengan penuh perasaan), karena kebanyakan berkhayal juga tidak baik kan? ;)
  • Mental Rehearsal bukanlah semacam pil ajaib untuk meningkatkan skill, melainkan hanya sebagai trigger (pemicu) skill yang kita punya dan mungkin potensi lain yang sulit kita ekspresikan. Jadi percuma saja kan kalau suka berkhayal jadi penyanyi rock tanpa pernah mau melatih olah vokal.
  • Semakin detil dan rinci kita berimajinasi, semakin banyak kemungkinan yang kita dapatkan, semakin siap kita menghadapi situasi sebenarnya.
  • Mental Rehearsal agak berbeda dengan teknik visualisasi tradisional, seperti menempelkan gambar/daftar impian atau wishlist di dinding, karena disini kita banyak bermain di feeling—seolah-olah kita merasakan situasi sebenarnya—dan ditujukan untuk membantu memperoleh tujuan jangka pendek dalam aktivitas dan tantangan sehari-hari.
  • Tidak ada prosedur yang pasti dalam mempraktekkannya. Apa yang saya tulis di atas adalah apa yang saya lakukan. Jadi mungkin kamu punya metode lain yang lebih efektif? ;)

Apakah metode ini benar-benar bekerja? Simak pepatah kuno yang sering diucapkan pelatih olahraga:

“Free throw shooting is 90% mental, 10% physical”

Gambar diadaptasi dari HubPages.

  • Mau saya coba semoga berhasil
  • Wow! This is a very cool blog! Thanks for the link..

    Anyway, emang banyak yang belum tau manfaat mental rehearse. Padahal ini ampuh banget buat menghadapi masalah sehari-hari. Thansk for sharing.
  • Makasih infonya bro...
    jadi inget buku "secret" neh
    Penuh motivasi
    Salam
blog comments powered by Disqus