Menjadi Optimis Atau Realis?

Belakangan ini saya sering membaca-baca artikel yang secara garis besar bercerita soal pikiran positif. Serius, bahkan sejak kecil pun saya sudah diajari bagaimana berpikir positif bisa membantu saya dalam banyak hal. Dan artikel-artikel yang saya baca kebanyakan mengaitkannya dengan kekuatan sebuah impian, kisah orang-orang tersukses, bahkan sampai film The Secret yang kontroversial itu.
Saya termasuk orang yang percaya akan kekuatan pikiran positif, juga tidak sepenuhnya menolak konsep The Secret. Tapi saya orang yang menolak pernyataan atau teori semacam you visualize, you materialize.
Walaupun ada benarnya, tapi teori itu masih terlalu kabur menurut saya. Saya tidak akan serta merta mendapatkan apa yang saya pikirkan. The Secret dan model kepercayaan lain yang serupa, masih gagal dalam menyampaikan prinsip klasik mengenai what you dream is what you get.
Tentu saja berpikir positif itu bagus. Mereka yang selalu berusaha berpikir positif pasti punya kualitas hidup yang lebih baik daripada orang yang hidupnya dikendalikan pikiran-pikiran negatif. Begitu juga dengan kisah orang-orang optimistis yang sukses mewujudkan impian mereka yang menurut orang sama sekali tidak realistis di masa itu. Namun, kali ini saya akan katakan bahwa pikiran positif dan optimis itu tak ada hubungannya dengan impian-impian tak realistis tersebut.
Berangkat dari hal tersebut, saya lihat ada dua pemikiran yang saling bertolak belakang. Yang satu mengatakan bahwa hidup harus dijaga setidakrealistis mungkin. Mereka percaya pada perubahan & kesuksesan hidup, keunggulan, keagungan, kekayaan, dan kebahagiaan yang diperoleh dengan bergantung pada impian-impian non-realistis. Menjadi seorang realis bukan pilihan mereka karena realitas selalu mengekang pada sifat mediokritas (keadaan yang biasa-biasa saja), makanya mengambil pilihan untuk menjadi optimis, menghilangkan keterbatasan, dan benar-benar total non-realistis dalam hidup. Boleh dibilang mereka sepenuhnya percaya pada konsep The Secret.
Kelompok realis berkata sebaliknya. Bukannya tidak percaya atau merasakan kekuatan berpikir positif, tapi mereka tahu kalau menjadi kelewat optimis malah akan membuat orang terperangkap dalam bayang-bayang delusi selama hidupnya. Berpikir positif itu baik, karena akan membuat diri merasa lebih nyaman dan bahagia saat itu, tapi hanya dengan menjadi pemikir positif tanpa batas (limitless) hanya akan menempatkan orang dalam perangkap penyangkalan diri yang membuatnya selalu membohongi diri sendiri setiap hari.
Mungkin kamu pernah dengar lelucon Anthony Robbins tentang seorang optimis yang berkata “Tidak ada rumput yang tumbuh di halamanku. Tidak ada rumput yang tumbuh di halamanku” berulang-ulang, tapi kenyataanya rumput malah tetap tumbuh di halaman rumahnya
. All the thinking in the world doesn’t change the truth, begitulah kira-kira pemikiran para realis, dan mereka biasanya punya formula umum tentang kesuksesan: Optimism + No action = No results atau semacam ini: Mindset → Thoughts → Actions → Results.
Hukum Tarik Menarik dan Sisi Realistis
Saya rasa tidak perlu penjelasan lagi soal konsep The Secret, karena hype-nya masih terasa sampai saat ini. Saya tegaskan pernyataan saya di atas bahwa teori ini masih gagal menyampaikan prinsip Law of Attraction. Halaman demi halaman buku itu saya baca, dan isinya tak lebih dari penjelasan soal hukum tarik menarik (yang bahkan sudah ada sejak ribuan tahun lalu di dalam kitab suci), dan bagaimana hukum tersebut bisa mengarahkan hidup kita pada segala hal sesuai pemikiran kita, suka atau tidak. Praktisnya, The Secret dianggap seperti kitab suci pemecah segala masalah kehidupan, mulai dari finansial, kesehatan, kebahagiaan, romansa, dan sebagainya.
Celakanya, saya bahkan belum menemukan sisi realis yang benar-benar solid di dalam buku tersebut.
Okelah kalau banyak orang yang telah berbagi pengalaman ajaib setelah mengaplikasikan konsep itu. Ada yang tiba-tiba dapat setumpuk uang hanya dengan memikirkannya, ada yang sembuh dari penyakitnya, dan sebagainya. Terus terang kadang-kadang saya juga mengalami hal-hal “ajaib” semacam itu karena pikiran positif saya sendiri. Pertanyaannya, kalau hal-hal tersebut benar-benar terjadi, kenapa masih banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang ajaib dan tidak realistis? Kenapa heran dengan setumpuk uang yang datangnya tidak disangka-sangka, padahal sudah tahu bahwa LoA merupakan salah satu rahasia terbesar di alam semesta ini?
Mbak Venus pernah bercerita pengalaman beliau soal LoA ini. Di artikelnya saya menemukan kalimat yang menarik ↓
Anda tinggal minta, dan kalau anda percaya, semua bisa anda dapatkan. Bagaimana cara dan prosesnya, biarkan semesta yang mengurusnya untuk anda.
Biarkan semesta yang mengurusnya untuk anda? Oh well, lalu kenapa saya punya teman yang sudah setahun tidak mendapat apa-apa, padahal impian yang ingin diraihnya selama setahun sudah ditulis di kertas, ditempelkan di tembok kamar supaya bisa dibaca dan dipikirkan setiap hari? Kenapa saya pernah dengar seorang sales MLM yang tidak mendapatkan kekayaan seperti yang sudah diteriakannya setiap hari: “aku pasti bisa. aku pasti bisa!!” di dalam kamarnya? That’s crazy man, kita kemanakan pikiran sehat dan akal logis kita?
Thomas Edison, Wright bros., dan orang-orang hebat punya impian yang menurut orang sangat tidak realistis di masa mereka. Kenyataanya, mereka berhasil membungkam mulut orang-orang lain dengan pencapaian prestasi mereka. Lalu kenapa mereka berhasil mencapai semua itu?
Karena mereka merancang jalan yang realistis untuk mencapai impian yang “tidak realistis” tersebut.
Edison tak mungkin menciptakan lampu hanya dengan bermimpi tanpa punya pengetahuan tentang listrik. Wright bersaudara tak mungkin terbang kalau mereka tak berusaha mempelajari mesin, baling-baling, dan aerodinamika. Astronot tidak bakal sampai bulan kalau tidak belajar ilmu angkasa. Bill Gates tak mungkin membuat semua orang memakai Windows kalau dia tidak belajar personal computer.
Mereka yang mengubah impian non-realistis menjadi realistis, karena mereka tahu caranya. Dan pada akhirnya, kata non-realistis hilang dari kamus mereka. Semuanya menjadi nyata, logis, masuk akal, dan tidak menyangkal hukum alam.
Dan hal itulah yang tidak dijelaskan dalam buku The Secret, karena kebanyakan hanya membaca kutipan orang-orang sukses yang berhasil dengan LoA, tanpa tahu “jalan darah” yang nyata—yang mereka lalui untuk meraih kesuksesan tersebut.
Terserah kamu akan setuju atau tidak, saya punya pendapat seperti berikut ↓
- Semua yang bisa dicapai manusia itu realistis
- Kita menganggap tidak realistis karena kita tidak tahu cara mencapainya
- Non-realistis itu diluar jangkauan dan kemampuan otak manusia, dan manusia tak akan bisa melewatinya
- Non-realistis itu sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam
- Kita tidak bisa mengendalikan alam semesta semata-mata untuk mengurus impian kita—kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri
Omong-omong, pernah dengar nama John Denner? Dia adalah pemuda tanpa jari tangan kanan yang mahir bermain gitar. Okelah kalau kamu berpikir kalau dia bisa saja melakukannya dengan teknik legato tangan kiri, tapi nyatanya dia sukses memainkan “Eruption” dengan picking dan tapping seperti Eddie Van Halen. Simak video berikut ini, dan contohlah bagaimana dia berhasil merancang “jalan realistisnya” sendiri sampai berhasil mencapai impian “non-realistis” sebagai gitaris handal.
Jadi apa yang kamu lakukan dengan mimpi-mimpi hebatmu? Memasukannya di dalam dompet, menuliskannya di profil Facebook, dan terus membaca The Secret sebagai obat penenang dan yakin keajaiban akan datang? Berhentilah bermimpi sobat, kalau kamu tidak tahu dan tidak mau tahu “jalan realistis” untuk meraihnya.
Foto diadaptasi dari RAPIDINHA!.


