Efek Jam Karet dan Manipulasi Waktu

Istilah jam karet bukan asing lagi di Indonesia. Jam karet muncul karena watak orang Indonesia sendiri yang pemalas. Dasar orang Indonesia, kalau punya kebiasaan buruk bukannya mengubah kebiasaan tersebut, tetapi malah mencari solusi lain asalkan kebiasaan tersebut tetap bisa dilakuin. Salah satu cara populer untuk mengatasi jam karet itu adalah dengan melebihkan jarum jam dari waktu yang sebenarnya.
Maksudnya sih baik, supaya kita terbiasa sedikit lebih cepat dalam memulai suatu aktivitas, seperti berangkat ke sekolah atau kampus. Tapi apakah benar penyetelan jarum jam seperti itu bisa mengusir rasa malas kita dan meningkatkan disiplin diri?
Saya akan berikan beberapa alasan berikut mengapa cara tersebut tidak akan bisa menghilangkan kebiasaan malas kita ↓
1. Manusia bukanlah makhluk bodoh
Kita makhluk yang paling hebat di alam semesta ini. Otak kita sempurna. Kita bisa mengingat pola-pola dengan sangat baik. Kalau cuma jam yang dilebihkan beberapa menit, apalagi kita sendiri yang melakukannya, tentu kita akan tetap ingat waktu sebenarnya kan?
Kalau begitu, bukankah dengan melakukan hal itu secara tidak langsung kita membodohi dan membohongi diri sendiri? Kita anggap kita ini makhluk bodoh seperti hewan yang tak punya pikiran cerdas, yang selalu jatuh kedalam lubang yang sama layaknya seekor keledai, yang mudah dipermainkan?
2. Semakin menambah rasa malas
Alasan supaya rasa malas diharapkan hilang dari diri kita sebenarnya kurang masuk akal. Coba tanyakan dan jujurlah pada diri sendiri, berapa kali kamu bergumam “Tidur bentar lagi aja ah, kan masih lama. Lagian jamnya juga kecepeten 20 menit”—gara-gara jam dinding yang kalian atur sendiri?
Ayo bangun, dasar pemalas!
3. Selalu menimbulkan konflik
Saya sering mengalami konflik gara-gara jam lebih tersebut. Saudara saya sering uring-uringan pada saya karena khawatir akan keterlambatan datang ke kampus (saya sopirnya). Walaupun kami tahu jam dinding dilebihkan beberapa menit lebih cepat, jam itu selalu menimbulkan semacam ketakutan tersendiri.
Ada lagi teman yang punya konflik dengan atasan gara-gara jam seperti itu. Ceritanya dia sering masuk terlambat di tempat kerjanya, padahal sudah yakin berangkat dari rumah lebih awal. Jadi honornya dikurangi gara-gara jam di kantor itu dilebihkan 25 menit. Mungkin si pimpinan hafal dengan watak kita orang Indonesia kali ya, misal bila jadwal rapat jam 9 pagi bisa molor sampai 9.30 misalnya. Masalah lain juga muncul ketika saat itu dia juga harus mengantar anaknya ke playgroup yang punya settingan jam yang berbeda lagi. Bikin bingung kan?
Ah, kalau mau mendisiplinkan karyawan dan meningkatkan produktivitas caranya kan nggak harus begitu bos. Kita sudah punya aturan waktu internasional yang akurat dan disepakati seluruh dunia. Kita sudah punya GMT+07.00, bukankah lebih baik kita sepakati dan jalankan waktu sebaik-baiknya dengan tidak bikin aturan sendiri. Rasa malas kan muncul dari diri sendiri, bukannya mengurangi sifat itu kok malah mengubah jam yang jelas-jelas tidak punya salah apa-apa sama kita? Ah memang kita ini makhluk manipulatif.
Adakah teman-teman polikronik yang tidak setuju dengan tulisan ini?
Foto oleh: Dropular.


