7 November 2009 View Comments

Efek Jam Karet dan Manipulasi Waktu

vintage red clock

Istilah jam karet bukan asing lagi di Indonesia. Jam karet muncul karena watak orang Indonesia sendiri yang pemalas. Dasar orang Indonesia, kalau punya kebiasaan buruk bukannya mengubah kebiasaan tersebut, tetapi malah mencari solusi lain asalkan kebiasaan tersebut tetap bisa dilakuin. Salah satu cara populer untuk mengatasi jam karet itu adalah dengan melebihkan jarum jam dari waktu yang sebenarnya.

Maksudnya sih baik, supaya kita terbiasa sedikit lebih cepat dalam memulai suatu aktivitas, seperti berangkat ke sekolah atau kampus. Tapi apakah benar penyetelan jarum jam seperti itu bisa mengusir rasa malas kita dan meningkatkan disiplin diri?

Saya akan berikan beberapa alasan berikut mengapa cara tersebut tidak akan bisa menghilangkan kebiasaan malas kita ↓

1. Manusia bukanlah makhluk bodoh

Kita makhluk yang paling hebat di alam semesta ini. Otak kita sempurna. Kita bisa mengingat pola-pola dengan sangat baik. Kalau cuma jam yang dilebihkan beberapa menit, apalagi kita sendiri yang melakukannya, tentu kita akan tetap ingat waktu sebenarnya kan?

Kalau begitu, bukankah dengan melakukan hal itu secara tidak langsung kita membodohi dan membohongi diri sendiri? Kita anggap kita ini makhluk bodoh seperti hewan yang tak punya pikiran cerdas, yang selalu jatuh kedalam lubang yang sama layaknya seekor keledai, yang mudah dipermainkan? :D

2. Semakin menambah rasa malas

Alasan supaya rasa malas diharapkan hilang dari diri kita sebenarnya kurang masuk akal. Coba tanyakan dan jujurlah pada diri sendiri, berapa kali kamu bergumam “Tidur bentar lagi aja ah, kan masih lama. Lagian jamnya juga kecepeten 20 menit”—gara-gara jam dinding yang kalian atur sendiri?

Ayo bangun, dasar pemalas! :D

3. Selalu menimbulkan konflik

Saya sering mengalami konflik gara-gara jam lebih tersebut. Saudara saya sering uring-uringan pada saya karena khawatir akan keterlambatan datang ke kampus (saya sopirnya). Walaupun kami tahu jam dinding dilebihkan beberapa menit lebih cepat, jam itu selalu menimbulkan semacam ketakutan tersendiri. :mrgreen:

Ada lagi teman yang punya konflik dengan atasan gara-gara jam seperti itu. Ceritanya dia sering masuk terlambat di tempat kerjanya, padahal sudah yakin berangkat dari rumah lebih awal. Jadi honornya dikurangi gara-gara jam di kantor itu dilebihkan 25 menit. Mungkin si pimpinan hafal dengan watak kita orang Indonesia kali ya, misal bila jadwal rapat jam 9 pagi bisa molor sampai 9.30 misalnya. Masalah lain juga muncul ketika saat itu dia juga harus mengantar anaknya ke playgroup yang punya settingan jam yang berbeda lagi. Bikin bingung kan?

Ah, kalau mau mendisiplinkan karyawan dan meningkatkan produktivitas caranya kan nggak harus begitu bos. Kita sudah punya aturan waktu internasional yang akurat dan disepakati seluruh dunia. Kita sudah punya GMT+07.00, bukankah lebih baik kita sepakati dan jalankan waktu sebaik-baiknya dengan tidak bikin aturan sendiri. Rasa malas kan muncul dari diri sendiri, bukannya mengurangi sifat itu kok malah mengubah jam yang jelas-jelas tidak punya salah apa-apa sama kita? Ah memang kita ini makhluk manipulatif. :D

Adakah teman-teman polikronik yang tidak setuju dengan tulisan ini? ;)

Foto oleh: Dropular.

  • japestinho
    Oopss... gw banget nih haha.. :D
    Pas lagi 20 menit jam gw juga dimajuin, emang bener tuh efeknya jadi merasa "ah masih 20 menit ini lagi" nyantai aja. Ga bagus juga membodohi diri sendiri :D

    Tapi kadang-kadang berguna juga untuk mengukur waktu kalau ingin pergi jarak jauh. Jadi ditakarnya jauh maju 20 menit supaya minimalisir resiko telat di jalan. Cuma wajib untuk tidak menyepelekannya "Ah masih 20 menit lagi"

    Thanks sentilannya.
  • Yup...saya pernah dengan "sukses" menambahkan 30 menit tanpa saya sadari karena kasus jam ini. Awalnya jam dinding rumah kawan yang dipercepat 10 menit, kemudian 10 menit lagi dari si pemilik jam dinding yang ditulis di hapenya, kemudian saya menanyakan jam kepadanya untuk men-setting hape saya yang baru copot baterei. Saya pun menambahkan 10 menit dari sana.

    HAsilnya 30 menit!!!
  • happylime
    Haha keren mas, kalau buat saya 30 menit cukup untuk mengacaukan jadwal harian :D
  • ya.. anda betul. akan semaki menimbulkan rasa malas
  • zee
    Manusia memang paling pinter kalo disuruh cari alasan. Hehehee...
    Tp syukurlah saya memang dididik utk disiplin dalam sehari-2. Jadi dalam urusan apapun bisa dikatakan saya hampir tidak pernah ngaret.
  • fay
    “Tidur bentar lagi aja ah, kan masih lama. Lagian jamnya juga kecepeten 20 menit”

    hehe aku banget itu..:P

    nice post..;)
  • Jam karet juga kalo ada kopdar blogger
  • saya setuju dengan memajukan jam untuk kita, saya pernah melakukannya dan berhasil. Sekali lagi berhasil...!!! namun hal itu tidak saya lakukan lagi karena....jam dinding mati..diganti baterai jugaga bisa..

    Soal jam kerja kantor itu yang saya ga setuju...kalo ingin karyawannya disiplin bukan dengan mengatur manual jam masuk, tapi berikan penjelasan. Pimpinan harus aktif memantau karyawannya. Toh juga ada punishment berupa potongan gaji bila terlambat..

    betewe lam kenall...
    blognya bagus deh,..
    mampir ya..
  • Jadi inget pas SMA. pas pelajaran geograpi yg gurunya biasa pulang 20 menit sebelum bel pulang.
    eh jam dindingnya dicepetin setengah jam sama anak satu kelas.
    jadinya padahal masih hampir sejam harusnya masih masuk kelas, kita sekelas disuruh pulang hahaha...
    satpam sekolah aja sampe curiga pas kita2 pada pulang.
  • yup.... tak usahakan gak sering2 ngaret lagi deh. :D
  • yup.... tak usahakan gak sering2 ngaret deh. :D
  • wkwkwkwkwkwk saya membayangkan kalo nanti punya anak, istri lagi mandi terus ga ada yang jagain anak saya. ya terpaksa molor dateng kantor
  • hihi emang ada yg gitu..beberapa teman saya melakukannya, katanya agar anak2nya lebih cepat bangun sehingga ga terlambat ke sekolah.
    sepertinya dia berhasil dengan itu.

  • informasi yang menarik sekali, terima kasih uda sharing
  • kita emang ogois ya ternyata,.. jam dinding aja bisa jadi korban.

    Mengatasi kemalasan itu emang sulit, kecuali kita punya komitmen yang tinggi dan tanggungjawab terhadap waktu yang diberikan kepada kita.
blog comments powered by Disqus