4 November 2009 View Comments

Apakah Kamu Pendengar Yang Baik?

listening

Pernahkah kamu merasa bahwa semua omongan kamu tidak didengarkan, dihargai, atau bahkan seolah-olah dirimu sama sekali tidak dianggap sedang berbicara? Well, di dunia ini ada semacam hubungan timbal-balik, sebab-akibat yang mungkin sebagian besar dari kita sulit memahaminya. Jangan pernah berburuk sangka dulu teman. Bisa jadi isi pembicaraan kamu yang tidak menarik, terlalu-berbasa basi, kamu kurang menguasai cara bertutur kata yang baik, atau bahkan kamu bukanlah pendengar yang baik sehingga orang lain pun tidak menjadi pendengar yang baik untuk semua ceritamu.

Jika kamu bisa menjadi pendengar yang baik berarti kamu bisa menghargai orang lain. Namun, tidak semua orang tahu caranya. Kamu perlu belajar bagaimana menggunakan ekspresi wajah yang tepat, memberikan tanggapan dengan benar, menggunakan bahasa tubuh yang tepat sehingga terbentuk hubungan batin yang dalam dan ketertarikan satu sama lain. Anyway, hari ini Twentea juga mempublikasikan artikel serupa (saya baru tahu, dan ini kebetulan semata) tentang menjadi pendengar yang baik dikala tidak mood.

Nah, saya akan memberikan beberapa tips bagaimana menjadi pendengar yang baik, dan saya terus belajar melakukannya dan cukup berhasil sejauh pengalaman saya ↓

Pertahankan kontak mata

Bahkan hubungan batin pun bisa berawal dari tatapan mata. Kontak mata adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal paling efektif dan mempunyai pengaruh besar dalam hubungan sosial. Sederhananya, bila dia sedang bercerita padamu, tataplah matanya dalam-dalam. Lihatlah seolah-olah kamu melihat dirimu sendiri melalui matanya. Ketahuilah kalau dia akan merasa diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh kamu.

Jangan lupa bahwa terlalu banyak kontak mata akan membuatmu terlihat agresif, terlalu sedikit akan membuatmu terlihat tidak tertarik kepada pembicara. Pokoknya lakukan kontak mata secara efektif.

Pakai teknik “segitiga” juga mampu meningkatkan ketertarikan. Tatap matanya selama beberapa detik, kemudian alihkan ke mata orang lain selama beberapa detik, dan kemudian lihatlah mulutnya selama beberapa detik juga. Akan lebih baik bila kamu tambahkan sedikit nada-nada persetujuan seperti “he’em”, “ya”, “ooo”, dan sebagainya. Lakukan ini secara berulang-ulang.

Pasang raut muka yang pas

Raut mukamu sangat mempengaruhinya kalau dia sedang bicara. Bila dia sedang bahagia saat bercerita tentang nasib baiknya pada hari itu, tarik alis mata kamu sedikit ke atas dan angkat senyummu sedikit. Dengan begitu dia akan tambah bersemangat bercerita. Kalau dia sedang bercerita tentang kesedihannya, cobalah pandangi wajahnya dengan raut muka penuh kepedulian, sambil sesekali menghela nafas.

Berikan sentuhan

Cara ini telah berkali-kali saya coba dan cukup berhasil :) . Pegang kepalanya dan acak-acak rambutnya (lakukan hanya pada teman baikmu). Pokoknya, berikan sentuhan yang menandakan kamu bersemangat mendengar cerita baiknya.

Pegang tangannya, sentuh pundak atau lututnya saat kamu mendengar kesedihannya. Dia akan sadar bahwa kamu sangat peduli dan berempati kepadanya.

Perbaiki posisi tubuh

Duduklah dengan santai dengan gaya seorang bos, tarik badanmu ke belakang bila kamu mendengar obrolannya yang santai dan menyenangkan. Bungkukkan punggungmu sedikit, dekatkan dan hadapkan badanmu kearahnya bila kamu sedang mendengarkan ceritanya yang memilukan.

Berikan tanggapan yang tepat

Bahasa tubuh belumlah cukup. Selain hanya mendengar, kamu juga perlu memberi tanggapan yang menarik untuk perkataannya. Perhatikan contoh berikut ↓

Contoh 1:
Dia: Aduh sial kok telat mulu sih gue? (kamu dan dia terlambat bareng masuk sekolah)
Kamu: Hehe iya ya, tiap hari kita telat mulu deh ya (dengan nada setengah bercanda dan sedikit senyum, setidaknya bisa mencairkan suasana saat itu)

Contoh 2:
Dia: Eh gue lagi seneng banget deh hari ini hihihi (dia tertawa cekikikan saking senangnya)
Kamu: Oh ya? Kenapa, kenapa nih? Cerita dong (ini menunjukkan ketertarikan)

Yang perlu kamu tahu, tanggapan yang baik tidak selalu memberikan solusi kepada orang yang kamu dengarkan. Ini berlaku bila kamu lagi mendengar curhat. Saya pernah membaca tentang hal ini di buku 7 Habits of Highly Effective Teens, bahwa kesalahan umum yang kita lakukan biasanya mencoba menasihati dan memberi solusi pada masalah dia kalau sedang curhat.

Perhatikan, kalau kamu melakukan hal itu berarti kamu tidak mampu mengendalikan ego kamu. Kamu menempatkan dan mencoba menawarkan dirimu sebagai solusi penuntas masalahnya. Sadarilah bahwa orang curhat itu tidak butuh solusi, karena biasanya mereka juga tahu bagaimana harus bersikap menghadapi masalah. Mereka cuma lagi butuh didengarkan, butuh perhatian dan kasih sayang dari kamu. Itu saja, dan kamu hanya perlu mendengarkannya.

Jadi pendengar curhat?

Ini aturan emasnya (buat kamu laki-laki): jangan pernah mau mendengar cewek yang hanya selalu dan mau curhat soal kesehariannya dan kehidupan cintanya.

Kamu tidak perlu meladeni curhat macam beginian, bahkan oleh cewek yang kamu taksir, atau kamu akan berakhir tak lebih dari sekedar “dukun curhat”-nya. Dengarkan curhat orang lain yang memang benar-benar sedang membutuhkan dukungan moral darimu, misal tentang konflik keluarganya atau masalah akademiknya.

Selamat mencoba! ;)

Foto oleh: nsfmc

  • I supportCoach Leather Handbags the upstairs.Originality Nike Dunk mid to sport, leisure UGG Classic Tall boots and fashion fields in the most innovative part successfully. I believe Puma must be most sport lovers love.Discount fashionable item is hotting on sale!UGG boots
  • Tulisan yang bagus dan bermanfaat!
  • wah3.. jadi takut kalo mau curhat yang sedih2 ke mas Fandy.. ntar demi menunjukkan bahwa mas Fandy adalah pendengar yang baik, bisa-bisa tangan saya dipegang hehehehe :P

    tipsnya mantab juga sih.. tapi masih agak kebarat2an tipsnya.. kebayang aja kalo dicurhatin teman wanita di tempat umum seperti kafe dan mempraktikkan semua yang dipaparkan di bagian "sentuhan", bisa-bisa seisi kafe memandang dengan pandangan yang tidak menyenangkan :P
  • happylime
    Bukan bermaksud kebarat-baratan mas, tapi semua orang secara naluri butuh sentuhan orang lain, bahkan sejak masih bayi. Ya ngga perlu berlebihan sih, kalau ngga mau nyentuh ya cukup lewat kontak mata.
    Kalau soal sentuhan di tempat umum saya kira tidak begitu lah, karena sentuhan yg ini pasti berbeda dengan sentuhan bernafsu kan?
    Nah kalau soal pegang tangan tentu saja ngga saya lakuin pada temen laki-laki mas hehe :D
  • wkwkwkwk.. iya.. iya.. bukan sentuhan bernafsu pun, kadang adat kita masih menganggap aneh.. walaupun yang beberapa orang yang affection display-nya berlebihan pun seringkali juga bisa tetep cuek ditengah2 masyarakat :)

    emang manusia itu butuh sentuhan, gesture semacam itu terkadang bisa berbicara lebih banyak ketimbang rangkaian kata :)

    eniwei, boleh tahu kenapa blog ini pake DisQus, kelebihannya apa emang mas? kan jadi lebih lama loadingnya :)
  • happylime
    Tidak perlu login dashboard kalau mau balas komentar mas. Selain itu ada fitur tracking dari situs2 jejaring sosial, bisa terintegrasi sama Facebook Connect dan Twitter.
  • berdasarkan pengalaman saya, untuk menjadi pendengar yang baik itu, perlu latihan hingga akhirnya itu menjadi sesuatu yang melekat dikeseharian kita.

    makasih postingnya, bermanfaat sekali.
  • happylime
    Iya mbak, teorinya mudah tapi berat dilakukan. Butuh pembiasaan sehingga tidak terkesan kaku dan dibuat-buat. Terus terang saya juga masih belajar soal ini.
    Terima kasih kunjungan dan komentarnya :)
  • halamanputih
    Meski jadi pendengar yang baik tapi suatu waktu kita juga perlu menjadi pembicara yang baik. Eh, salah penulis yang baik (dalam blog maksudnya). Kalo pembaca yang baik, kasih komen tentunya he... he...

    Salam,
    HALAMAN PUTIH
  • happylime
    URL blognya mana mas?
  • doblehyangmalang
    artikel yang baik
    salam hangat selalu
    makasih y
  • orangbijak
    mantep cong
  • zee
    Kalau saya, mendengarkan teman curhat itu wajib hukumnya. Mau cewek, mau cowok, kalo teman lagi ada masalah, kita emg kudu jadi pendengar.
    Tp klo curhatnya udah menghabiskan waktu kita, baru deh harus cari cara utk menghindar dengan smooth...
  • yah emang c kita harus berusaha untuk menjadi pendengar yang baik cz dengan gt kita bakalan di anggap sebagai pembicara yang baik loh g tau kenapa padahal kita hanya mendengar aj tapi bisa di anggap pembicara yang baik mungkin karena mereka senang............

    ni blog mas fanari yang baru yah
  • denydeyn
    kalo saya rada risih pada point yg pertahankan kontak mata,
    kan aneh bila tatap2an sama sesama cowk
    cew sih ga masalah hahha
    yah mungkin sesekali natap lawan bicara kita
  • whehe sya juga pendengar yg baik ..
    blog nya bagus nih ..
    masih baru ya mas ..
    sering2 berkunjung keblog sya ya ..
    klo prlu kita tukeran link . :D
    salam sukses
  • happylime
    Terima kasih kunjungannya mas :)
  • Saya selalu tidak merasa rugi setiap mengunjungi blog ini, banyak manfaatnya. Bahkan dilihat dari umur bloh ini yg masih baru. Tetap semangat Jeng.
    Oya, katanya sih, Indonesia itu masyarakatnya masih dikenal sebagai masyarakat pendengar, sedangkan masyarakt di negara maju cenderung ke arah membaca. sehingga, jika kita ingin bangsa ini menjadi maju, salh satunya adalah membiasakan untuk membaca ketimbang mendengar. Tp tntu keduanya harus seimbang. Salam hangat...
  • happylime
    Panggil "mas" aja, jangan panggil "jeng" hueheheh :))
    Keduanya merupakan bentuk komunikasi. Tidak ada masalah di antara keduanya, orang menerima ilmu bisa dari membaca atau mendengar. Mata dan telinga kita sama, tak ada yang lebih diistimewakan. Dan sebenarnya konteks "mendengar" maksud saya di sini adalah dalam pergaulan sehari-hari pak :)
  • Saya pendengar yang baik mas, kl gak percaya silahkan baca about di blog saya hehehe...

  • happylime
    Jadi patung pendengar curhat itu ya pak? hehehe :)
    Ya tidak selalu harus jadi patung sih pak, paling tidak kita mengiyakan curhatannya, atau sedikit menyatakan rasa simpati kita.
blog comments powered by Disqus