Apakah Kamu Pendengar Yang Baik?

Pernahkah kamu merasa bahwa semua omongan kamu tidak didengarkan, dihargai, atau bahkan seolah-olah dirimu sama sekali tidak dianggap sedang berbicara? Well, di dunia ini ada semacam hubungan timbal-balik, sebab-akibat yang mungkin sebagian besar dari kita sulit memahaminya. Jangan pernah berburuk sangka dulu teman. Bisa jadi isi pembicaraan kamu yang tidak menarik, terlalu-berbasa basi, kamu kurang menguasai cara bertutur kata yang baik, atau bahkan kamu bukanlah pendengar yang baik sehingga orang lain pun tidak menjadi pendengar yang baik untuk semua ceritamu.
Jika kamu bisa menjadi pendengar yang baik berarti kamu bisa menghargai orang lain. Namun, tidak semua orang tahu caranya. Kamu perlu belajar bagaimana menggunakan ekspresi wajah yang tepat, memberikan tanggapan dengan benar, menggunakan bahasa tubuh yang tepat sehingga terbentuk hubungan batin yang dalam dan ketertarikan satu sama lain. Anyway, hari ini Twentea juga mempublikasikan artikel serupa (saya baru tahu, dan ini kebetulan semata) tentang menjadi pendengar yang baik dikala tidak mood.
Nah, saya akan memberikan beberapa tips bagaimana menjadi pendengar yang baik, dan saya terus belajar melakukannya dan cukup berhasil sejauh pengalaman saya ↓
Pertahankan kontak mata
Bahkan hubungan batin pun bisa berawal dari tatapan mata. Kontak mata adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal paling efektif dan mempunyai pengaruh besar dalam hubungan sosial. Sederhananya, bila dia sedang bercerita padamu, tataplah matanya dalam-dalam. Lihatlah seolah-olah kamu melihat dirimu sendiri melalui matanya. Ketahuilah kalau dia akan merasa diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh kamu.
Jangan lupa bahwa terlalu banyak kontak mata akan membuatmu terlihat agresif, terlalu sedikit akan membuatmu terlihat tidak tertarik kepada pembicara. Pokoknya lakukan kontak mata secara efektif.
Pakai teknik “segitiga” juga mampu meningkatkan ketertarikan. Tatap matanya selama beberapa detik, kemudian alihkan ke mata orang lain selama beberapa detik, dan kemudian lihatlah mulutnya selama beberapa detik juga. Akan lebih baik bila kamu tambahkan sedikit nada-nada persetujuan seperti “he’em”, “ya”, “ooo”, dan sebagainya. Lakukan ini secara berulang-ulang.
Pasang raut muka yang pas
Raut mukamu sangat mempengaruhinya kalau dia sedang bicara. Bila dia sedang bahagia saat bercerita tentang nasib baiknya pada hari itu, tarik alis mata kamu sedikit ke atas dan angkat senyummu sedikit. Dengan begitu dia akan tambah bersemangat bercerita. Kalau dia sedang bercerita tentang kesedihannya, cobalah pandangi wajahnya dengan raut muka penuh kepedulian, sambil sesekali menghela nafas.
Berikan sentuhan
Cara ini telah berkali-kali saya coba dan cukup berhasil
. Pegang kepalanya dan acak-acak rambutnya (lakukan hanya pada teman baikmu). Pokoknya, berikan sentuhan yang menandakan kamu bersemangat mendengar cerita baiknya.
Pegang tangannya, sentuh pundak atau lututnya saat kamu mendengar kesedihannya. Dia akan sadar bahwa kamu sangat peduli dan berempati kepadanya.
Perbaiki posisi tubuh
Duduklah dengan santai dengan gaya seorang bos, tarik badanmu ke belakang bila kamu mendengar obrolannya yang santai dan menyenangkan. Bungkukkan punggungmu sedikit, dekatkan dan hadapkan badanmu kearahnya bila kamu sedang mendengarkan ceritanya yang memilukan.
Berikan tanggapan yang tepat
Bahasa tubuh belumlah cukup. Selain hanya mendengar, kamu juga perlu memberi tanggapan yang menarik untuk perkataannya. Perhatikan contoh berikut ↓
Contoh 1:
Dia: Aduh sial kok telat mulu sih gue? (kamu dan dia terlambat bareng masuk sekolah)
Kamu: Hehe iya ya, tiap hari kita telat mulu deh ya (dengan nada setengah bercanda dan sedikit senyum, setidaknya bisa mencairkan suasana saat itu)
Contoh 2:
Dia: Eh gue lagi seneng banget deh hari ini hihihi (dia tertawa cekikikan saking senangnya)
Kamu: Oh ya? Kenapa, kenapa nih? Cerita dong (ini menunjukkan ketertarikan)
Yang perlu kamu tahu, tanggapan yang baik tidak selalu memberikan solusi kepada orang yang kamu dengarkan. Ini berlaku bila kamu lagi mendengar curhat. Saya pernah membaca tentang hal ini di buku 7 Habits of Highly Effective Teens, bahwa kesalahan umum yang kita lakukan biasanya mencoba menasihati dan memberi solusi pada masalah dia kalau sedang curhat.
Perhatikan, kalau kamu melakukan hal itu berarti kamu tidak mampu mengendalikan ego kamu. Kamu menempatkan dan mencoba menawarkan dirimu sebagai solusi penuntas masalahnya. Sadarilah bahwa orang curhat itu tidak butuh solusi, karena biasanya mereka juga tahu bagaimana harus bersikap menghadapi masalah. Mereka cuma lagi butuh didengarkan, butuh perhatian dan kasih sayang dari kamu. Itu saja, dan kamu hanya perlu mendengarkannya.
Jadi pendengar curhat?
Ini aturan emasnya (buat kamu laki-laki): jangan pernah mau mendengar cewek yang hanya selalu dan mau curhat soal kesehariannya dan kehidupan cintanya.
Kamu tidak perlu meladeni curhat macam beginian, bahkan oleh cewek yang kamu taksir, atau kamu akan berakhir tak lebih dari sekedar “dukun curhat”-nya. Dengarkan curhat orang lain yang memang benar-benar sedang membutuhkan dukungan moral darimu, misal tentang konflik keluarganya atau masalah akademiknya.
Selamat mencoba!
Foto oleh: nsfmc


