30 October 2009 Comments

Ekspresi Atau Impresi?

happiness

Begitu banyak orang yang menempatkan validasi masyarakat di atas segala-galanya dalam hidupnya—bahkan sampai harus mengorbankan passion dan jati diri mereka sendiri. Banyak kita dapati segolongan orang yang berusaha mencari “tempat” dan pengakuan di lingkungan sosialnya. Tepuk tangan dan decak kagum dari masyarakat itu yang mereka harapkan—dan tentu saja mereka sangat bangga akan itu. Saya akan coba menulis sesuatu yang menjadi alasan kenapa saya memutuskan merancang dan membuat blog ini. Satu topik sederhana yang menjadi konsep pilar dari artikel-artikel HappyLime! mendatang.

Tulisan ini sepenuhnya terinspirasi dari blog PluginID—salah satu blog personal development favorit saya. Salah satu tulisan yang sangat inspiratif dan menjadi cikal bakal lahirnya HappyLime! adalah artikel berjudul Expression Not Impression.

Tahukah teman-teman arti kedua kata tersebut? Apakah kalian menyadari kalau kedua kata tersebut adalah salah satu kunci kebahagiaan dalam kehidupan kalian yang benar-benar nyata?

Lemme illustrate it: Seorang abg—katakanlah 17 tahunan. Gaul. Populer di sekolah. Sangat beruntung punya ayah kaya. Selalu punya gadget baru setiap bulan.

Menyenangkan bukan punya kehidupan seperti itu? Tidak selalu teman ;)

Jangan pernah beranggapan bahwa kehidupan kaum sosialita itu selalu fun, selalu penuh dengan hal-hal menyenangkan yang bebas dilakukan kapanpun mereka mau. Tidak sedikit mereka yang melakukan itu semua demi mendapat validasi dari masyarakat. Ingin tampil cantik, kaya, berkelas, berselera tinggi. Mereka beralasan semua itu merupakan bagian dari ekspresi gaya hidupnya.

That’s completely wrong and lemme correct it: it’s truly impression, not expression.

Telah terjadi miskonsepsi pada kedua kata tersebut. Perhatikan kutipan berikut ↓

“Expression simply being sharing your true feelings with the world and doing things for you. Impression being changing yourself and what you do in order to get other people to like you or think highly of you in some regard.”

Jelas sudah kita sering mencampuradukkan dan menyamakan kedua arti kata tersebut. “Impresi” bisa dikatakan sesuatu yang membawa kesan baik di mata orang lain—dan itu sama sekali berbeda dengan “ekspresi”—yang merupakan ungkapan murni dari jiwa untuk diri sendiri, tak peduli orang akan mengapresiasi atau tidak.

Contoh Impresi dan Ekspresi

Pernahkah kamu melakukan hal-hal berikut?

  • Sering merasa kuatir dengan pilihan kostum yang kamu pakai, dan cemas membayangkan gimana reaksi orang-orang nanti
  • Tak pernah ketinggalan nonton setiap konser lokal di kotamu, biar dianggap sebagai anak gaul yang bisa diajak kemana aja
  • Selalu mengupdate ponsel lama dengan ponsel versi lebih baru, bukan karena alasan fungsionalitas
  • Sering manggung dengan band-mu—sebagai anak band tentunya
  • Suka approach cewek-cewek yang belum dikenal, dengan niat untuk pamer ketrampilan sosial dan berharap si cewek terkesan dan menganggapmu sebagai cowok yang pantas dikencani
  • Mengupdate status Facebook atau Twitter supaya dunia tahu kalian sedang menghadiri pesta yang megah malam itu. Atau supaya teman-teman membaca keluhanmu dan berharap mereka mengasihimu. Atau menulis status/tweet yang kamu anggap cool walaupun tanpa value yang berarti
  • Menulis puisi, lagu, dan membuat video tentang wanita yang kamu cintai—berharap dia merasa iba dan terkesan kepadamu (Oh man! sekarang udah bukan waktunya ngungkapin perasaan pake cara 90-an :p)

Saya dan teman-teman mungkin pernah melakukan hal-hal semacam di atas ketika berusia belasan tahun. Masa-masa dimana banyak orang menyebutnya sebagai..hmm..pencarian jati diri.

Sekarang saya sudah melewati masa-masa itu. Dan sebagai anak yang baru menginjak usia 20-an, saya rasa sudah saatnya belajar berekspresi dan memikirkan masa depan untuk kebahagiaan hidup saya 40-50 tahun mendatang. Alih-alih melakukan semua hal di atas, saya lebih memilih belajar untuk melakukan ↓

  • Bermain musik karena saya suka musik. Saya punya ekspresi dan pesan yang ingin saya sampaikan lewat musik. Saya bermain sebagai musisi, bukan anak band yang keren
  • Saya belajar untuk tidak lagi bicara atau berperilaku melebihi apa yang saya mau
  • Saya pilih karir dan pekerjaan yang saya cintai dan sesuai dengan hasrat—bukan pekerjaan yang orang tua saya inginkan, atau pekerjaan yang dianggap baik secara sosial
  • Saya ingin punya gadget yang bisa membuat pekerjaan saya lebih efektif—tak peduli orang tahu atau tidak, tak hanya karena ingin punya sesuatu yg orang lain tidak punya
  • Saya memilih untuk belajar bersenang-senang bersama dia, dan melakukan hal-hal yang bisa dinikmati bersama—daripada terus menerus bersikap sok cool dan melakukan impresi berlebihan supaya dia terkesan. Atau melakukan hal konyol berbekal perasaan ngarep supaya dia suka. Atau melakukan apa saja yang penting dia senang.
  • Saya belajar dan terus mencoba berinteraksi dengan pria-wanita yang belum saya kenal—bukan untuk menguji level social skill saya, tetapi karena saya tertarik dengan mereka dan ingin memperkenalkan diri

“People are funny: They spend money they don’t have, to buy things they don’t need, to impress people they don’t like.” ~anonymous

Impresi tidak selamanya buruk. Kita tetap saja butuh pengakuan orang lain atas prestasi dan karya kita. Namun jangan sampai kita hidup selalu dibawah pengakuan orang. Jangan sampai impresi kita melebihi ekspresi kita.

Don’t trying to impress the world and please everyone guys. You can’t.

Pilihan ada di tangan kita

Sekarang pilihan ada di tangan kita. Mau menjalani hidup dengan terus berusaha menyenangkan semua orang, hidup dengan reaksi orang-orang, hidup dibawah keputusan orang tua. Atau malah memilih hidup bahagia, bebas, dan menjadi lebih mudah dengan hasrat, passion, dan ego diri sendiri. No more validation. No more approval seeking. No more wasting time caring what people think. It’s completely up to you.

Omong-omong, ada kutipan menarik dari Kurt Cobain (he’s the one who taught me the meaning of the expression, and how to live this life without relying on the validation from other people) mengenai hidupnya sebelum dia mati ↓

“I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not.”

Silakan nikmati hidupmu yang singkat dan nggak adil itu teman. Have a nice day! ;)

Foto oleh: The Situationist

  • rasanya dari usia belasa, saya bukan tipe yang memikirkan apa yang harus dilakukan agar orang2 menyukai dan menyayangi saya, walaupun itu hanya akting semata .. gak ada gunanya, bayangkan berapa jumlah orang di luar sana .. ratusan juta dengan ratusan juta pendapat dan opini pula .. !! capek banget harus memikirkan apa yang mereka pikirkan ..
    what a waste .. ya gak ?!

    Cara Membuat Web
  • Begitu baca impresi langsung ingat ama Pass Band hehehehe

    saya pribadi tidak pernah mau mengesankan orang lain atau lingkungan tempat saya bergaul, saya sendiri lebih suka mengekspresikan diri, gak peduli orang atau lingkungan saya bakal suka atau mencemooh... hehehe....

    Lagi pula saya tidak suka jadi pusat perhatian..

    Bagi saya berekpresi lebih menyenangkan dalam hidup saya, saya tidak terpaku harus membuat orang lain terkesan, sukur2 kl mereka emang terkesan, toh itu saya anggap hanya sebagi bonus saja...

    eniwei artikelnya sangat bagus...
  • Qie
    Posting yg bagosss sangad :D

    namun keduanya antara ekspresi dan juga impresi terkadang sangad sempit dan sulit perbedaannya :(
  • salam hangat dari Makassar
  • nice posting. jadi nambah ilmu nih tentang ekspresi dan imppresi. tq fren
  • kalo saya suka dg filosofi kesederhanaan. tentu saja dg terlebih dahulu melalui kompleksitas dan paradoks kehidupan ya.. ^_^
  • happylime
    keep it simple gitu ya? :D
    makasi udah mampir mas :)
  • tary
    tulisan kamu bagus, salam kenal yah...
  • "life is short, so let me live it my way." jimi hendrix

    salam kenal yah! :D
  • happylime
    wow that's a great quote from highly respected guitarist! thanks bro, salam kenal :)
  • Hal yang paling sulit adalah, bicara dan bertingkah laku diluar kemauan kita... Itu lah yang paling sering aku alami :(
  • hmm... ekspresi atau impressi....
    kayaknya dua duanya perlu n penting
    karena tanpa itu... hampa n hambaar.. jiiiah
  • Tulisan yg renyah dan mudah dipahami, then...I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not.
blog comments powered by Disqus